Jumat, 23 Januari 2015

Cerpen

COBAAN MENYIMPAN RENCANA

            WATI.  Itu namaku.  Aku sudah lulus dari SD dan Saat ini, Aku duduk di kelas 1 SMP.  Aku Berasal dari keluarga yang sederhana. Aku Anak Terakhir dari 3 bersaudara.  Kakak pertamaku sudah berumah tangga dan kedua namanya aris, Aku dengan dia KEMBAR dampit laki perempuan. Tapi aku memanggil dia kakak. Selama 3 tahun aku dan keluarga ku tidak mudik L. Gara - gara banyak halangan.
*****
            “kak, ayo berangkat sekolah !”. Panggil kak aris dengan penuh keceriaanJ. “Iya dek tunggu sebentar... !” ucap dengan membalas keceriaan J.  “Cepat kak... aku ga sabar masuk di SMP  ini’’. “coyo coyo... Wati masuk SMP Negeri... J’’.  “kakak bisa aja, kakak kan juga masuk di SMP Negeri J” . “Udah udah, cepat berangkat jangan bercandaan terus...nanti telat loh... !” ucap ibu dengan tertawa . “Baik Boss... :D Ibu ayah, Kami berangkat dulu.. Assalamualaikum’’. Ucap serentak dengan senyuman manis. “waalaikumsalam.... yang pintar di sekolah ya nak !’’.
“lalu, Aku dan kak aris berangkat ke sekolah dengan penuh semangat untuk menuntut ilmu di sekolah baru ini J.’’
*****
            “Akhirnya sampai juga di sekolah... bagus ya kak sekolahnya. Semoga kita di sini meraih prestasi – prestasi yang membanggakan...!’’. ucap dengan menetes air mata.                “amien.... yarobbal alamien J.  Ya sudah, ayo kita masuk ke kelas dek, nanti keburu lagi !.” Ajak kak aris seraya menggandeng tangan ku yang ku balas dengan senyuman.”
*****
“Rrr...”,Bel bertanda masuk”. Semua murid masuk ke kelasnya masing – masing dengan tertib termasuk Aku dan kak aris. Dan kebetulan aku dan kak aris 1 kelas. jam pertama adalah pelajaran bahasa indonesia, gurunya pun masuk .  lalu di siapkan oleh salah satu teman qu, “selamat siang bu...”ucap ketua kelas dengan keras seraya semua berdiri serempak”,  selesailah salam untuk memulai pelajaranya’.
*****
            “Selamat siang anak – anak... perkenalkan nama saya Ibu larminah, biasa dipanggil ibu Minah. Saya berharap anak – anak bisa mengikuti pelajaran saya dengan baik.’’ Ujar dengan menebarkan senyum ikhlas. “ya bu.!’’  Ucap semua murid dengan serempak. “anak – anak mari kita memulai pelajaran dengan membuka halaman 5 !’’ ajak dengan tegas.
Lalu Bu Minah, menjelaskan tentang materi Bab 1 ... Aku dan semua teman serempak untuk memerhatikan penjelasan itu dengan penuh konsentrasi.
***
            “Tiba...Tiba...                                                                                                                   “Aku Dan kakak Ku di panggil oleh guru Bk ‘’.  Hati ku berdebar kencang, tidak karuan... Merasa takut sekali. “Ada pa bu ?”. “ada telvon dari Rumahmu...ayo ikut aja ke ruang BK !”  ajak guru dengan tergesa gesa.
Aku dan kak aris pun menuju ke ruang Bk dengan rasa tidak karuan.
“Ini telvon dari Ibumu !” “ya bu.” akupun mengangkat telvonya.  “Halo, Assalamualaikum ibu. !’’ “Waalaikumsalam, nak... nenek dan kakek kamu meninggal, kamu cepat pulang... soalnya ini langsung mau ke Desa Trenggalek”.                                       “Innalillahiwainnalillahiroji’un. Ya bu, aku akan ijin ke guru untuk pulang”. Aku Terkejut dan menetes air mata.           “ ya sudah... ijin dulu ke gurumu nak. ! wassalamuailaikum ...”. “waalaikum salam’’.
Ya udah... tidak apa – apa, kamu pulang dulu . Ibu berbela sungkawan atas kematian nenek dan kakek kamu ya... Jangan sedih, ni cobaan bagi kalian !’’. ucap guru dengan halus. “Terima kasih ya bu.. Aku pulang dulu bu, wassalamualaikum...”                                      “waalaikum salam, hati – hati ya nak..”
            Aku pun pulang... dengan rasa Sedih sekali...                                                                           ***
“Assalamualaaikum Bu... aku ganti baju dulu ya bu..” ucap dengan tergesa – gesa.                                                                           “ ya nak... cepat ya, soalnya di tunggu sama pakde !”           .
Lalu ... Aku , Kak faris, Orang tua Ku, dan semuaa saudara – saudara ku  dari berbagai kota berangkat ke Desa Trenggalek. Kecuali kakak pertamaku, karena dia tidak kuat untuk melakukan perjalanan jauh.                                                                                                                                              ******                                                                                                                                    Kemudian... sampai lah di Desa Trenggalek yaitu rumah nenek dan kakek Ku... yang diliputi oleh suasana Yang menyedihkan.                                                                                                      ***                                                                                                                                                            “ya allah kenapa kau ambil nyawa nenek dan kakek ku... Aku belum siap untuk menerima ini ...”. menyesalku yang tak henti – hentinya menangis.  “istigfar wati... Tidak boleh berkata seperti itu, ini sudah Takdir dari Allah.” Ucap pakde dengan membelai rambut ku.                    ******                                                                                                                                                                 3 hari sudah... aku dan saudara – saudara ku berada di desa ini dalam suasana sedih.
dan saat ini belajar untuk mengikhlaskan nenek dan kakek.                                                                ***                                                                                                                                        “Drrr....RRrrrr... handpone ayah ku berbunyi... Ternyata telvon dari kakak ipar ku”. “Assalamualaikum... ada pa nak ?” tanya ayah ku. “waalaikumsalam, pak, Dian Sakitnya  kumat, dan skrang di rawat di RS Medika, Krian” . “astagfirullah, ya udah nak... ayah akan kesana sekarang ! Wassalamualaikum”. “waalaikumsalam”.jawab kakak ku.                                                               

“Aku sangat sedih sekali mendengarkan berita itu...ku coba menenangkan diriku dengan membaca istigfar...”       lalu aku dan keluargaku berangkat menuju rumah sakit di krian itu. Dengan menetes air mata terus menerus.                                                                                            ***
            4 jam sudah perjalanan ini... dan akhirnya sampai. Aku pun berlari sekencang – kencangnya menuju kamar kak Dian. Astaghfirullah haladzim... “Wajah kak dian pucat sekali di tambah badanya semakin kurus L.”                                                                                              “ya allah, kenapa kau memberi sakit seperti ini kepada kak dian... jangan kau siksa dia dengan penyakit ini. !”  melihat seraya berdoa di dalam hati.                                            Saudara – saudara ku tidak mampu untuk melihat penyakit yang di derita kakak ku ... terutama ayah dan ibu ku. Melihatnya sungguh kasihan...                                                               ******
1 minggu sudah... kakak ku di rawat di rumah sakit...  dan pulang ke rumah.
hati Ku sedikit lega...
J “ aku dan keluarga ku pun pulang ke surabaya , karena semua masalah sudah selesai J                                                                                                              ****** (3 hari kemudian)
Eh... ada informasi lagi, kalau kak dian ku jatuh sakit... dan katanya semakin parah...       Masya allah... sungguh cobaan yang berat. L “ Aku dan keluarga ku pun bergegas menuju rumah sakit sidoarjo. Semua saudara – saudara ku juga menginformasikan akan menuju ke rumah sakit .                                                                                                                             ***
Astaghfirullahhaladzim...ternyata benar kata kak ajis, kalau kak dian sakitnya tambah parah ... “ ya allah .... tolong dan tolong ya allah.. ringan kanlah dan cepat sembuhkan penyakit kakak ku.” Sungguh itu membuat ku sedih sekali .
 Tak sengaja Ku melihat ada sedikit pertengkaran kecil di depan taman ...antara ayah ku, pakde, dan kak ajis. Ku dengar sedang mempeributkan tentang kak dian. Bahwa ayah ku menginginkan kak dian di bawa ke rumah sakit Dr.Soetomo. karena rumah sakit itu sudah terkenal canggihnya. Pakde dan kak ajis pun menyetujui itu.
Lalu kak dian pun cepat dibawa ke rumah sakit Dr. Soetomo karena sudah semakin parah penyakitnya...
Aku  dan semua saudara – saudara ku bersama-sama berangkat menuju rumah sakit itu.
******
Aku  dan keluargaku menunggu di depan rumah sakit, karena tidah di perbolehkan masuk. dan banyak sekali saudara – saudara ku yang datang. Dan itu membuat ku senang, karena saudara – saudara ku menyempatkan waktunya buat kakakku. J                                                  ***
“Ibu, jangan dipaksakan jaga kak dian. Ibu istirahat aja...nanti takutnya  sakit ibu kumat !”
“tidak usah nak... tidak apa – apa kok. Adek pulang ja dengan kakak mu. !”
“baik bu... Assalamualaikum.’’ Aku kasihan sekali, ingin sekali menggantikan ibu untuk menjaga kak dian. Dengan terpaksa aku harus pulang.                                                                 ******
Aku langsung mengerjakan tugas – tugas yang menumpuk... dan harus ke warnett malam – malam.                                                                                                                                                   “Kak, aku ijin ke warnet ya... buat ngerjain tugas tugas ku ini. !”.                                                   “Hati – hati ya dek... jangan malam malam. !”.                                                                                                            ***
Eh... pulang pulang ada tetangga yang fitnah aku, masya allah... padahal aku keluar malam buat ngerjain tugas ku ini  . dikira dengan tetanggaku yang tidak – tidak.                                            
Hm  ku terima aja ocehan itu. J “harus sabar dalam menghadapi cobaan.” Ucap dalam hati ku.                                                                                                                                               “udah dek, jangan dengarkan perkataan tetangga... dia hanya tukang gosip ! ayo dek tidur... udah malam !” “ya kak”.
Terpaksa aku  dan kakak ku berdua di rumah sendiri... karena ayah dan ibu ku menjaga kak dian.                                                                                                                                                           ***
            Waktu pagi jam 3. Akupun mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat tahajut.  Dan berdoa untuk keluargaku terutama buat kak dian ku saat ini yang jatuh sakit. “ Ya allah... berikanlah keringanan cobaan ini. Terutama kepada kak dian ku. Jangan kau siksa dia dengan penyakit ini. Aku tidak kuat melihat dia seperti ini.”                                                                        ******
Ddr...rrrr... handpone ku berbunyi karena ada telvon. “ Hallo... assalamualaikum...”
“waalaikumsalam... alhamdulillah nak, mbak dian kondisinya sudah membaik.” Ibuku mengungkapkan dengan rasa senang sekali. “ alhamdulilah... ya sudah bu, aku nanti kesana bersama kakak.”                                                                                                                               Dengan hati yang senang sekali... akupun langsung menuju rumah sakit.                                                                                                                                                ******                       
            Ku lihat mbak dian... sudah membaik dari hari - hari sebelumnya. Bisa bercanda... dan Bahagia....... sekali Dirawat oleh ayah ibu. Maklum masa kecil Kak dian, tidak pernah dirawat sama ayah ibu karena ayah ibuku kerja dan dititipkan di Bude ku.
“Alhamdulillah...Allah telah mengabulkan doaku...” J memang benar... Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan kita. Dan Allah akan memberi pertolongan jika kita berikhtiar dan selalu bersabar. J   aku yakin dari cobaan ini pasti ada hikmah yang di petik  dan aku juga yakin cobaan ini menyimpan suatu RENCANA yang besar.  yaitu aku bisa berkumpul dengan semua saudara – saudara ku yang selama 3 tahun tidak pernah berkumpul seperti ini dan kak dian bisa berkumpul dan dirawat oleh ayah ibu. J
*****

2 komentar:

  1. Falina Kurniawati as Wati. Faris Kurniawan as Aris :-D. "Tapi aku memanggil dia kakak." Are you sure call him 'kakak'?

    BalasHapus
  2. hihihi ... ini kan cuman dalam cerita :D

    BalasHapus