PENGORBANAN UNTUK SAHABAT
FALINA. Saat ini, ia duduk di kelas 1 SMP. Ia
memilki seorang sahabat baru dari kelas itu yang sangat perhatian padanya,
Safira namanya. Sejak mereka duduk di kelas 1 SMP, mereka sudah bersahabat. Meskipun
bersahabat hampir 4 bulan, hari demi hari mereka lalui rintangan – rintangan
dengan keceriaan.
*******
‘Safira, berangkat yukkk!’’ panggil Falina dengan keceriaan J. Namun
tidak ada jawaban dari safira. Lalu Kakak perempuanya keluar menghampiri
falina, “ Eh dekk, maaf safiranya dah
berangkat tadi sendirian , kelihatanya tadi berangkat ter buru buru dekkk’’
jelas kakak safira dengan senyum”. “Oh, sudah berangkat ya, kak”. Maaf
menggangu ya kak. Ya sudah saya berangkat saja!”, wasssalamua’laikum”.
“Lalu Falina
berangkat ke sekolah Dengan perasaan
kecewa dan sedih “. “ Safira kok, berangkat duluan ya,juga dia
berangkat sendirian ?. biasanya dia berangkat bersamaku” meskipun aku lama
datang tapi biasanya dia menunggu” Batin Falina.
*******
Lalu, mereka bertemu di parkir
sekolah. “Mmm...” Maaf ya Falina, aku
tadi berangkat duluan”. Ucap safira dengan lirih. “Gpp kok fir, lagi pula
sambil olahraga gituuu”. Ucap Falina berdusta”. “Makasih y
Falina sudah mafin aku, kamu memang sahabat terbaikqu” J. Ucap
safira dengan bahagia. “ya sama-sama “ J. Ya
sudah, ayo kita masuk ke kelas, nanti keburu lagi !. Ajak safira seraya
menggandeng tangan Falina yang di balas dengan senyuman.”
******
“Rrr...”,Bel bertanda masuk”. Semua murid masuk ke kelasnya masing –
masing dengan tertib termasuk Falina dan Safira. jam pertama adalah pelajaran bahasa jawa,
gurunya pun masuk , lalu di siapkan oleh ketua kelas dengan menggunakan bahasa
jawa. ” jumeneng” ucap ketua kelas dengan keras seraya semua berdiri
serempak”, selesailah salam untuk
memulai pelajaranya’.
*******
“Anak-anak,
keluarkan pr bahasa jawa untuk mengoreksi secara bersama !
“ajakan guru “. “Fir, kenapa” ? tanya falina
berbisik – bisik ketika melihat wajah safira panik . “ Fal, tolongin aku,
plisss !“ lirih safira dengan ketakutan sambil mencari bukunya.
“Tolongin apa fir... , kok kayak ketakutan gitu ?” tanya falina
“Tolongin apa fir... , kok kayak ketakutan gitu ?” tanya falina
“Tu...tu...tu...tugas
aku ketinggalan di rumah fal, jadi aku gak bawa ! “ jawab safira. Matanya
berkaca-kaca. Merasa ketakutan sekali ”.
“Apa! Gak bawa!?” ucap Falina dengan suara agak keras dan kaget..
“Ada apa, Falina?” Tanya Ibu Guru,
“Nggak, bu, saya tadi terkejut, sa…sa..sa..saya tadi lupa tidak membawa tempat pensil, bu” ucap Falina terbata-bata. Senyum kepada gurunya”.
“Apa! Gak bawa!?” ucap Falina dengan suara agak keras dan kaget..
“Ada apa, Falina?” Tanya Ibu Guru,
“Nggak, bu, saya tadi terkejut, sa…sa..sa..saya tadi lupa tidak membawa tempat pensil, bu” ucap Falina terbata-bata. Senyum kepada gurunya”.
“Ya sudah,
kamu duduk saja Falina, Ibu kira ada apa” ujar Ibu Guru seraya duduk
“ini, gimana... falina aku takut di marahin dan di suruh pulang! “ucap Safira dengan takut “ “sudah...sudah...! jangan panik ! “ujar Falina dengan sabar
“ini, gimana... falina aku takut di marahin dan di suruh pulang! “ucap Safira dengan takut “ “sudah...sudah...! jangan panik ! “ujar Falina dengan sabar
“Hei, siapa yang tidak mengumpulkan tugas
bahasa jawa!?” tanya Ibu Guru dengan wajah ‘sangar’-nya itu :-@
“Sa…sa... saya, Bu” ucap Falina pasrah demi melindungi Safira
“Falina, mengapa kamu tidak mengerjakan? Kamu itu siswi paling rajin dan pandai, mengapa kamu membuat hal yang menurunkan prestasi dan nilai bahasa jawamu?” ucap Ibu Guru
“Falina, kenapa kamu bilang seperti itu?” bisik Safira
“ Nggak apa – apa kok fir !“ jawa Falina
“Sa…sa... saya, Bu” ucap Falina pasrah demi melindungi Safira
“Falina, mengapa kamu tidak mengerjakan? Kamu itu siswi paling rajin dan pandai, mengapa kamu membuat hal yang menurunkan prestasi dan nilai bahasa jawamu?” ucap Ibu Guru
“Falina, kenapa kamu bilang seperti itu?” bisik Safira
“ Nggak apa – apa kok fir !“ jawa Falina
“Anak-anak,
jika kalian melakukan hal seperti yang dilakukan Falina, kalian akan Ibu beri
hukuman hormat kepada bendera dari mulai sekarang hingga jam pelajaran usai.
Falina, kamu jalankan hukumannya, sekarang. Kalian semua mengerti?” seru Ibu
Guru
“Mengerti, bu” serentak semua mengucapkannya.
*****
“Kamu gak apa-apa kan, Fal ?” Tanya Safira
“Nggak apa-apa kok, buat sahabat sejatiqu J” jawab Falina
“Ya ampun wajah kamu pucat banget, aku antar pulang saja yah?” tawar Safira
“Nggak usah, fir” tolak Falina
“Mengerti, bu” serentak semua mengucapkannya.
*****
“Kamu gak apa-apa kan, Fal ?” Tanya Safira
“Nggak apa-apa kok, buat sahabat sejatiqu J” jawab Falina
“Ya ampun wajah kamu pucat banget, aku antar pulang saja yah?” tawar Safira
“Nggak usah, fir” tolak Falina
“Pasti kamu
puasa , kan ?” ujar Safira
“ ngg...ngg...ngak kok fir !” jawab Falina dengan gugup
“ ngg...ngg...ngak kok fir !” jawab Falina dengan gugup
“ Hayo
bohong ya... fal !? jangan bohong sama aku !” rayu Safira dalam batin sedih
“ hmmm,
i...i...iya fir, aku puasa sekarang.”jawab Falina jujur
**
“Kenapa kamu
melakukan hal itu ? “tanya Safira
“Nggak apa –
apa...” lirih Falina seraya tersenyum kecil. Tiba – tiba penglihatanya samar –
samar. Ia melihat Safira seperti ada tiga sosok. Tiba – tiba, Ia merasa gelap.
Kepala menjadi enyut - enyut.
Dan...
*******
“Falina,
bangun.. Bangun! “jerit Safira seraya sedih
“(Semua
murid maupun guru berlarian menuju jeritan Safira)”
“Claire, apa
yang terjadi?” tanya Ibu guru bahasa jawa
“Falina pingsan, bu, ini semua salah safira, seharusnya safira yang di hukum, bukan Falina.
“Falina pingsan, bu, ini semua salah safira, seharusnya safira yang di hukum, bukan Falina.
“Safira, Bu,
yang tidak mengerjakan tugas jawanya” jelas Claire seraya menundukkan kepalanya
“Kenapa kamu melakukan itu safira, kamu telah menyebabkan seseorang sakit, apa lagi dia kan sahabatmu , sekarang kamu ke ruangan Ibu!!” ucapnya dengan galak
“Kenapa kamu melakukan itu safira, kamu telah menyebabkan seseorang sakit, apa lagi dia kan sahabatmu , sekarang kamu ke ruangan Ibu!!” ucapnya dengan galak
“Bawa Falina
ke UKS ! “ merintah dengan galak
*******
“ ( Terdengar kemarahan bu guru , Falina menuju ruang guru dengan perlahan – lahan berjalannya )“
*******
“ ( Terdengar kemarahan bu guru , Falina menuju ruang guru dengan perlahan – lahan berjalannya )“
“Ibu, hentikan, bu, jangan marahin safira”
lerai Falina
“Falina, kamu sadar, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Bu Guru bahasa jawa dengan segenap perhatiannya
“Nggak apa-apa, bu” jawab Falina
“Falina, kamu sadar, kamu nggak apa-apa kan?” tanya Bu Guru bahasa jawa dengan segenap perhatiannya
“Nggak apa-apa, bu” jawab Falina
“ Kamu
kenapa kesini , keaadaanmu masih kurang baik ! “ ujar guru bahasa jawa
“nggak apa – apa kok bu , keadaanku sudah membaik “. Jawab Falina dengan senyum
“nggak apa – apa kok bu , keadaanku sudah membaik “. Jawab Falina dengan senyum
“Nggak
apa-apa gimana? Wajah kamu pucat sekali” ucapnya
Mata safira tampak
berkaca-kaca melihat Ibu Guru perhatian kepada Falina.
Lalu, safira
keluar dan pulang tanpa pamit.
“Safira,
tunggu!” namun safira tidak menjawab
“Sudah, Falina, jangan pedulikan dia, dia itu bikin kamu seperti ini”
“Tapi, bu, dia sahabatku”
“Ibu tahu kamu menyayanginya, tetapi jangan kamu membantu dalam hal kesalahan seperti ini”
*******
“Sudah, Falina, jangan pedulikan dia, dia itu bikin kamu seperti ini”
“Tapi, bu, dia sahabatku”
“Ibu tahu kamu menyayanginya, tetapi jangan kamu membantu dalam hal kesalahan seperti ini”
*******
Hari ini,
ulang tahun Falina yang ke 12. Ia terus memandangi handphone-nya. Menunggu
ucapan selamat ulang tahun dari Safira. Namun, hasilnya ? NIHIL !!
Tampaknya, safira
benar-benar marah besar terhadap sosok falina ! Orang yang telah membuatnya
dibentak-bentak oleh gurunya. merasa sangat marah ! Ia menganggap, falina hanya
orang yang “Cari Perhatian” didepan guru-guru. Namun, Falina pun berusaha meminta maaf terhadap
safira. Ia juga merasakan rasanya menjadi safira. Falina merasa sepi dan sunyi .
Dikelas pun, Safira sibuk bicara dengan
teman-teman lainnya, di ajak berbicara tidak di perhatikan . L
“I Hope, Claire will say Happy Birthday to me. Please, God” lirih falina
Falina pun memutuskan pergi menuju rumah safira. Meninggalkan kue ulang tahun yang telah ia buat bersama kakaknya, Ardyana.
*****
“ ( Pada saat Falina mau menuju ke rumah safira, Ia bertemu safira di jalan ) . “
“Safira... safira...tunggu,
aku mau bicara!” panggil Falina
“Safira.. Aku minta maaf!” Safira tak merespon sama sekali sapa’an Lia.
“Safira.. Aku minta maaf!” Safira tak merespon sama sekali sapa’an Lia.
Lari, lari, dan terus berlari. Membuat
nafas Flinaterasa sesak.
“Safira! Maafkan aku, kamu jangan lari!” panggil Falina seraya menahan rasa sakitnya
“Mau apa kamu mengejarku? Aku itu orang yang selalu salah!” Safira pun merespon Falina. Falina merasa lega. Namun, ia langsung terjatuh seraya memegangi dadanya yang terasa semakin sesak.
“Safira! Maafkan aku, kamu jangan lari!” panggil Falina seraya menahan rasa sakitnya
“Mau apa kamu mengejarku? Aku itu orang yang selalu salah!” Safira pun merespon Falina. Falina merasa lega. Namun, ia langsung terjatuh seraya memegangi dadanya yang terasa semakin sesak.
“Safira, kamu gak boleh ngomong begitu” lirih Falina
Safira pun langsung menghampiri Falina yang tengah dalam keadaan sakit. Wajahnya pucat, nafasnya ter-engah-engah, keringat dingin bercucuran dari keningnya
“Safira, aku mohon. Maafin aku. Aku sayang sama kamu”
I..... THE..... BEST.....
FRIENDS.....
“ucap Lia
lirih dengan penuh penghayatan dan terbata – bata”.
“ ( Falina memegang tangan Safira dengan erat ) .”
“ ( Falina memegang tangan Safira dengan erat ) .”
Nafas Lia sudah tak beraturan. Jantungnya beradu cepat dengan paru-parunya. Cepat – cepat safira berteriak kencang meminta “Tolong” kepada orang lain untuk membawa Falina ke rumah sakit dengan cepat !. “ Alhamdulillah ada orang yang mau menolong untuk membawa Falina ke rumah sakit.
*******
“Alhamdulillah
Kamu sudah sadar Falina ?, maaffin aku
ya Fal , aku telah membuatmu sakit “ujar Safira seraya sedih
“ Gak ada yang perlu di maafin kok fir J !” jawab Falina seraya memeluk safira
“y J, kita
kembali yang dulu lagi y, di masa kita bersatu untuk senang maupun sedih.!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar