Assalamualaikum... berikut makalah tentang Qadha dan Qadhar Allah Swt. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi pembaca.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Setiap
manusia memiliki ketentuan yang digariskan Allah dalam hidupnya. Allah swt
menegaskan dan menjelaskan hal tersebut dalam Al Quran dengan sangat jelas.
Akan tetapi, pemahaman mengenai Qadha dan Qadhar (takdir) seringkali
menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu untuk meluruskannya kembali, kita
perlu melihat dalil dalil al Qur’an maupun hadis yang menjelaskan hal tersebut
agar kita dapat menyikapi segala hal
yang terjadi sesuai dengan sikap positif islam.
1.2 Rumusan Masalah
1. pengertian Beriman kepada Qadha dan
Qadhar?
2. pengertian Qadha dan Qadhar ?
3. ciri – ciri beriman kepada Qadha dan
Qadhar ?
4. Hubungan antara Qadha dan Qadhar ?
5.
Bagaimana menyikapi Qadha dan Qadhar ?
6.
Hikmah Beriman kepada Qadha dan Qadhar ?
1.3 Tujuan Penulis
1. memahami pengertian beriman kepada Qadha dan Qadhar.
2 Memahami pengertian Qadha dan Qadhar
Allah Swt.
3.
memahami ciri – ciri beriman kepada Qadha dan Qadhar
4. Memahami Hubungan antara Qadha dan Qadhar
5.
mengetahui bagaimana menyikapi Qadha dan Qadhar
6.
mengetahui Hikmah Beriman kepada Qadha dan Qadhar Allah Swt.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Beriman kepada Qadha dan Qadhar
Allah Swt.
Beriman kepada Qadha dan Qadhar
merupakan Rukun iman yang ke 6.
Arti
Beriman kepada qada dan qadar adalah menyakini dengan sepenuh hati adanya
ketentuan Allah SWT yang berlaku bagi semua mahluk hidup. Allah swt menciptakan
Makhluk dengan ukuran , bentuk, dan hukum tertentu. Misalnya Langit, bumi ,
hewan tumbuhan, malaikat, jin, dan manusia.
Semua itu menjadi bukti kebesaran
dan kekuasan Allah SWT. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini
telah ditetapkan oleh Allah SWT.
2.2 Pengertian Qadha dan Qadhar Allah Swt.
2.2.1 QADHA’
Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti
yaitu memutuskan, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan, dan penciptaan.
Sedangkan menurut istilah, qadha
adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT dari sejak zaman azali tentang segala
sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya sesuai dengan iradah (kehendak-Nya),
meliputi baik dan buruk, hidup dan mati, dan seterusnya.
Segala
sesuatu yang terjadi telah diketahui Allah SWT terlebih dahulu karena Dialah
yang merencanakan serta yang menentukannya. Seluruh makhluk, baik malaikat,
syetan, jin, maupun manusia tidak akan mengetahui rencana-rencana Allah SWT
tersebut.
Manusia
punya rencana, tetapi Allah SWT yang menentukan. Ungkapan ini merupakan salah
satu bentuk cara memahami qadha dan qadar Allah SWT. Manusia memang diberi
kemampuan untuk berbuat dan berpikir, namun kedudukan Allah SWT dan
kekuasaan-Nya adalah di atas segala-galanya.
Ketentuan
Allah SWT ini merupakan hak mutlak (absolut), tanpa campur tangan siapapun dan
dari manapun. Oleh karena itu manusia harus mau menerima kenyataan. Kemampuan
manusia terbatas pada ikhtiar untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi. Sedangkan berhasil atau gagal, ini merupakan kekuasaan Allah SWT
semata.
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ
وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ نُطْفَةٌ أَيْ
رَبِّ عَلَقَةٌ أَيْ رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقًا
قَالَ قَالَ الْمَلَكُ أَيْ رَبِّ ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَمَا
الرِّزْقُ فَمَا اْلأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ ( رواه البخاري
و مسلم )
Artinya : “Diriwayatkan
dari Anas bin Malik r.a katanya: baginda s.a.w bersabda: Allah SWT mengutus
Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air
mani. Setelah beberapa waktu Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah
berupa segumpal darah. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat
berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal daging. Apabila Allah SwT
membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata:
Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau
bahagia? Bagaimana
rezekinya? Serta
bagaimana pula ajalnya? Segala-galanya dicatat ketika masih di dalam
kandungan ibunya”. (HR Bukhari dan Muslim)
2.2.2 QADHAR
Dari segi bahasa Qadhar berasal dari kata “Qadaro” yang
artinya memutuskan suatu perkara. Adapun istilah Qadar
adalah ketentuan atau keputusan Allah SWT yang telah berlaku bagi setiap
makhluk berdasarkan ketetapan dan usaha, serta doa yang dilakukan orang
tersebut. Qadhar bisa disebut dengan TAKDIR. Oleh karena itulah, baik buruknya
telah direncanakan terlebih dahulu oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT
:
وَكُلُّ
شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ (الرعد : ٨)
Artinya : “Dan segala
sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS Ar Ro’du: 8)
Dari pengertian hadis
dan ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa qadha dan qadar atas diri
manusia telah diputuskan oleh Allah SWT sebelum manusia ada atau dilahirkan ke
dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah qadha dan qadar biasa disebut
juga dengan takdir. Jadi, beriman kepada qadha dan qadar dapat dikatakan pula
dengan beriman kepada takdir.
Takdir baru dapat
diketahui oleh manusia dengan kenyataan atau peristiwa yang yang telah terjadi,
contoh :
1.
Terjadinya musibah bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember tahun 2004
yang merenggut ratusan ribu korban meninggal dunia. Sebelum kejadian tersebut
tak ada seorangpun yang mengetahuinya.
2.
Dalam suatu kejadian kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang ternyata ada
seorang bayi yang selamat. Menurut ukuran akal, si bayi adalah makhluk
yang sangat lemah dan tidak mampu mencari perlindungan, tetapi malah dia yang
selamat. Sementara penumpang lain yang sudah dewasa dan dapat berusaha
menyelamatkan diri malah meninggal dunia.
3.
Ada seorang yang dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin. Orang
sekampung memperkirakan anak tersebut kelak juga akan menjadi miskin seperti
orang tuanya. Namun, setelah anak tersebut dewasa ternyata menjadi orang yang
pandai berdagang, sehingga dia menjadi orang yang kaya.
Contoh-contoh
di atas hanyalah merupakan bagian kecil ari peristiwa-peristiwa yang berkaitan
dengan takdir Allah SWT. Masih banyak sekali peristiwa yang bisa kita pahami
sebagai perwujudan dari qadha dan qadar dari Allah SWT. Namun dari berbagai
contoh di atas menunjukkan bahwa qadha dan qadar Allah SWT akan tetap berlaku
kepada setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang beriman harus meyakini dengan
sepenuh hati akan adanya qadha dan qadar.
Firman Allah SWT :
وَالشَّمْسُ
تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (سورة يس :
٣٨)
Artinya : “Dan matahari berjalan di tempat
peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha
Mengetahui”. (QS. Yasin : 38)
Dalam surat al-Hadid ayat 22, Allah juga berfirman :
مَا
أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاًَّ فِي كِتَابٍ
مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ (سورة الحديد :
۲۲)
Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di
bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab
(lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid : 22)
· Contoh dan Macam-macam Takdir
Meskipun
segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan oleh Allah sejak
zaman azali, tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada juga yang
mengikutsertakan peran makhluk-Nya. Karena itulah, takdir dibagi menjadi dua, yaitu takdir
mubram dan takdir mu’allaq :
1. Takdir
Mubram
Dalam bahasa Arab, mubram artinya sesuatu yang
sudah pasti, tidak dapat dielakkan. Jadi, takdir mubram merupakan ketentuan
mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku atas setiap diri manusia, tanpa bisa
dielakkan atau di tawar-tawar lagi, dan tanpa ada campur tangan atau rekayasa
dari manusia.
Contoh takdir mubram antara lain :
a Waktu ajal seseorang tiba
a Usia seseorang
a Jenis kelamin seseorang
a Warna darah yang merah
a Bumi mengelilingi matahari
a Bulan mengelilingi bumi
Jika Allah sudah menetapkan bahwa seseorang akan mati
pada suatu hari, di suatu tempat, pada jam sekian, maka orang tersebut pasti
akan mati pada saat dan tempat yang sudah ditentukan itu. Ia tidak akan bisa
lari atau bersembunyi dari malaikat Izrail, meskipun ia berada di dalam sebuah
tembok benteng yang sangat kokoh.
Allah SWT. berfirman :
أَيْنَمَا
تَكُوْنُوْا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ
(سورة النساء : ٧٨)
Artinya : “Di manapun kamu berada, kematian akan
mendapatkan kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS.
an-Nisa : 78)
2. Takdir
Mu’allaq
Dalam Bahasa Arab, mu’allaq artinya sesuatu
yang digantungkan. Jadi, takdir muallaq berarti ketentuan Allah SWT yang
mengikutsertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Dan hasilnya
aakhirnya tentu saja menurut kehendak dan ijin dari Allah SWT.
Allah SWT.
berfirman :
...إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا
مَا بِأَنْفُسِهِمْ... (سورة الرعد : ۱۱)
Artinya : “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d : 11)
Beberapa contoh takdir mu’allaq antara lain adalah kekayaan, kepandaian,
dan kesehatan. Untuk menjadi pandai, kaya, atau sehat, seseorang tidak boleh
hanya duduk berpangku tangan menunggu datangnya takdir tapi ia harus mengambil
peran dan berusaha. Untuk menjadi pandai kita harus belajar; untuk menjadi kaya
kita harus bekerja keras dan hidup hemat; dan untuk menjadi sehat kita harus
menjaga kebersihan. Tidak mungkin kita menjadi pandai kalau kita malas belajar
atau suka membolos. Demikian juga kalau kita ingin kaya, tetapi malas bekerja
dan suka hidup boros; atau kita ingin sehat, tetapi kita tidak menjaga
kebersihan lingkungan, maka apa yang kita inginkan itu tak mungkin terwujud.
Sebagaimana ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar di atas,
orang yang meyakini takdir Allah SWT, tidak boleh pasrah begitu saja kepada
nasib karena Allah SWT memberikan akal yang bisa membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk. Allah SWT juga memberikan tubuh dalam bentuk sebaik-baiknya
untuk digunakan sarana berusaha.
Dengan
demikian, jelaslah bahwa beriman kepada qadha dan qadar Allah bukan berarti
kita hanya pasrah dan duduk berpangku tangan menunggu takdir dari Allah;
melainkan juga berusaha yang giat sepenuh hati mengubah nasib sendiri, berupaya
bekerja dengan keras mencapai apa yang kita cita-citakan.
2.3 Ciri – Ciri beriman kepada Qadha dan Qadhar
Allah Swt.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dihadapkan
kepada kenyataan hidup yang dialaminya. Kenyataan itu kadang ada yang berbentuk
positif dan terkadang negatif, seperti :
- ada yang memuaskan ada yang tidak,
- ada yang menyenangkan ada yang menyusahkan,
- ada yang menurut kita baik ada yang buruk, dan sebagainya.
Bagi orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apapun
kenyataan dan peristiwa yang dialaminya, akan ditanggapi dan diterima secara
positif. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar,
kenyataan apapun yang diterima ditanggapi dan diterima secara negatif.
Contoh :
- Orang beriman yang tertimpa musibah menanggapi kenyataan ini dengan kesabaran dan ketabahan. Kesabaran dan ketabahan merupakan sika positif yang dinilai Allah SWt dengan pahala. Jadi, selama dia sabar dan tabah, selama itu pula pahalanya terus mengalir.
- Orang beriman ketika mendapatkan keberuntungan besar bersyukur dan merasa bahwa semua itu karunia dari Allah SWT. Untuk itu ia ingin berbagi kepada orang lain dengan menafkahkan sebagian keuntungannya tersebut.
- Orang yang tidak beriman ketika mendapat musibah merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi. Dia merasa putus asa dan akhirnya melampiaskannya dengan berbagai macam perbuatan yang merusak, seperti melamun, merokok, mengkonsumsi narkoba, bahkan ada yang bunuh diri.
- Orang yang tidak beriman ketika mendapat keuntungan bisnis yang berlimpah malah menggunakannya untuk berfoya-foya. Dia merasa bahwa yang didapatnya itu semata-mata merupakan prestasi yang harus diraakan dan dia berhak dan bebas menggunakan sesuka hatinya.
Dengan memahami contoh-contoh tersebut, yakinkah kamu
bahwa beriman kepada qadha dan qadar mempunyai peranan penting dalam kehidupan?
Kalau yakin, tentu kamu ingin meningkatkan keimananmu kepada qadha dan qadar.
Bagaimana ciri-ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar? Berikut ini
merupakan ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar.
1.
Selalu menyadari dan menerima kenyataan
Iman kepada qadha dan qadar dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi
untuk menerima kenyataan hidup. Karena yang terjadi adalah sudah pada garis
ketentuan Allah pada hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah
SWT.
Firman Allah SWT :
قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللهِ إِنْ
أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلاَ يَجِدُوْنَ لَهُمْ مِنْ
دُوْنِ اللهِ وَلِيًّا وَلاَ نَصِْيرًا (سورة الاحزاب : ۱٧)
Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang dapat
melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana atasmu, atau
menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh
bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab : 17)
2. Senantiasa
bersikap sabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan
senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh kesabaran, baik dalam situasi
yang sempit atau susah dan tetap bersabar dalam situasi senang atau bahagia.
Dengan demikian orang yang beriman kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam
keadaan yang stabil jiwanya.
اَحَسِبَ
النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْآأَنْ يَقُوْلُوْآ امَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ (سورة
العنكبوت : ۲)
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan
dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2)
Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya
pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam,
dan sebagainya. Perhatikan firman Allah berikut :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ (سورة البقرة : ۱٥٥)
Artinya : “Dan sungguh akan kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS.
al-Baqarah : 155)
Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya
memberi berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Memang dalam menghadapi
cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai
sukses.
3.
Rajin dalam berusaha dan tidak mudah menyerah
Agar seseorang terus giat berusaha ia pun yakin bahwa segala hasil usaha
manusia selalu diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan.
Firman Allah :
وَأَنْ لَيْسَ
لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعى. وَأَنَّ سَعْيَه سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ
الْجَزَآءَ اْلأَوْفَى. وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهى (سورة النجم :٣٩-٤۲)
Artinya : “Dan bahwasannya seorang manusia
tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan
bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya). Kemudian akan
diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya
kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42)
4. Selalu
bersikap optimis, tidak pesimis
Keyakinan terhadap Qadha dan Qadar dapat menumbuhkan
sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena ia yakin walau sering gagal,
pasti suatu saat akan berhasil sehingga tidak akan berputus asa.
Firman Allah SWT :
... وَلاَ تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاَ يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (سورة يوسف :٨٧)
Artinya : “…dan jangan kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan
kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)
5. Senantiasa
menerapkan sikap tawakal
Tawakal (berserah diri0 kepada Allah SWT akan tumbuh
pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala sesuatu telah dikehendaki
Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut keyakinannya Allah tidak mungkin
menyengsarakannya. Allah sumber kebaikan sehingga tidak mungkin Allah
menghendaki hamba-Nya kepada keburukan.
Firman Allah SWT :
إِنِّي
تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلاَّ هُوَ اخِذٌ
بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (سورة هود : ٥٦)
Artinya : “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada
Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun, melainkan
Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang
lurus.” (QS. Hud : 56).
2.4 Hubungan antara Qadha dan Qadhar
Qadha
dan Qadhar memiliki hubungan yang saling melengkapi. Qadha lebih menggambarkan
aspek perencanaan dan penentuan atas penciptaan terhadap segala sesutau.
Sedangkan Qadhar yaitu batasan atau ukuran serta hukum hukum yang harus ada
pada setiap ciptaan yang direncanakan itu.
Allah
Swt. Telah menetapkan Qadha dan Qadhar pada semua makhluk atas segala apa yang
terjadi pada dirinya, akan tetapi manusia tidak boleh menggantungkan diri
sepenuhnya kepada takdir semata – mata, tetapi harus berusaha untuk menentukan
nasibnya sendiri. Apabila ingin memperoleh prestasi yang tinggi tidak akan
diperoleh dengan hanya diam, duduk, dan berdoa serta menggantungkan diri kepada
Allah Swt. Akan tetapi harus dibarengi dengan berusaha dan sungguh sungguh.
Hanya yang perlu dimengerti, bahwa tidak semua usaha atau ikhtiar pasti berhasil
karena hanya Allah Swt. Yang menentukan segalanya
Berdasarkan
keterangan diatas jelas bahwa hubungan antara Qadha dan Qadhar berkaitan erat .
Qadha mengacu pada hukum, undang – undang , dan
ketetapan Allah swt. Yang berlaku atas semua makhluknya. Sedangka Qadar mengacu kepada pelaksanaan dari
rencana Allah swt. Atas hukum, undang undang dan ketetapan Allah Swt.
2.5 Menyikapi
Qadha dan Qadhar Allah Swt
Keimanan
kita pada Qadha dan Qadhar melahitrkan ajaran tentang konsep ridha. Menerima
segala yang diputuskan allah, sabar dalam menyikapinnya , kemudian bertawakal
mmbangun langkah – langkah usaha.
Allah Swt berfirman dalam Al Quran Surah Al –
Insyirah ayat 5 & 6 :
﴿
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ ﴾ [ الانشراح: 5]
“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 5).
firman Allah ta’ala pada ayat berikutnya:
﴿
إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦ ﴾ [ الانشراح: 6]
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 6).
Itu adalah
Sunatullah. Tidak ada kesulitan abadi dan tidak ada kemudahan yang abadi.
Tidak ada
manusia yang sengsara selamanya ataupun bahagia selamannya. Semua itu
tergantung sikap
kita sendiri dalam menghadapi semua hidup ini. Ketika kita mengahadapi
kesedihan,
masalah, kegelisahan, mantapkan dan
tingkatkan iman kita kepada Qadha dan
Qadhar Allah
Swt.
2.6 Hikmah
beriman kepada Qadha dan Qadhar Allah Swt.
1. Menyadari dan menerima kenyataan
Iman kepada qadha dan qadar dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menerima kenyataan hidup. Karena yang terjadi adalah sudah pada garis ketentuan Allah pada hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah SWT.
Firman Allah SWT yang Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang
dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana
atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak
memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab :
17)
2. Membentuk dan meningkatkan kesabaran
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh kesabaran, baik dalam situasi yang sempit atau susah dan tetap bersabar dalam situasi senang atau bahagia. Dengan demikian orang yang beriman kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam keadaan yang stabil jiwanya.
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2) Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya.
Perhatikan firman Allah yang artinya: “Dan sungguh akan kami berikan
cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. al-Baqarah : 155)
Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya memberi berita
gembira kepada orang-orang yang sabar. Memang dalam menghadapi cobaan
diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai
sukses.
3. Sebagai pendorong dalam berusaha
Agar seseorang terus giat berusaha ia pun yakin bahwa segala hasil usaha manusia selalu diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan.
Firman Allah : Artinya : “Dan bahwasannya seorang manusia tiada
memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya
itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan
kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya kepada
Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42)
4. Menumbuhkan Sikap Optimis
4. Menumbuhkan Sikap Optimis
Keyakinan terhadap Qadha dan Qadar dapat menumbuhkan sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena ia yakin walau sering gagal, pasti suatu saat akan berhasil sehingga tidak akan berputus asa.
Firman Allah SWT : Artinya : “…dan jangan kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah,
melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)
5. Menumbuhkan jiwa tawakal
5. Menumbuhkan jiwa tawakal
Jiwa tawakal pasrah kepada Allah SWT akan tumbuh pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala sesuatu telah dikehendaki Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut keyakinannya Allah tidak mungkin menyengsarakannya. Allah sumber kebaikan sehingga tidak mungkin Allah
menghendaki hamba-Nya kepada keburukan.
KESIMPULAN
Firman Allah SWT yang artinya:
“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada
satu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya.
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud : 56).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar