Minggu, 18 Januari 2015


Assalamualaikum... berikut makalah tentang Qadha dan Qadhar Allah Swt. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

 
BAB I
PENDAHULUAN





1.1  Latar Belakang
Setiap manusia memiliki ketentuan yang digariskan Allah dalam hidupnya. Allah swt menegaskan dan menjelaskan hal tersebut dalam Al Quran dengan sangat jelas. Akan tetapi, pemahaman mengenai Qadha dan Qadhar (takdir) seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu untuk meluruskannya kembali, kita perlu melihat dalil dalil al Qur’an maupun hadis yang menjelaskan hal tersebut agar kita dapat menyikapi segala hal  yang terjadi sesuai dengan sikap positif islam.

                                                                                                            
1.2   Rumusan Masalah
1.      pengertian Beriman kepada Qadha dan Qadhar?
2.      pengertian Qadha dan Qadhar ?
3.      ciri – ciri beriman kepada Qadha dan Qadhar ?
4.      Hubungan antara Qadha dan Qadhar ?
5.   Bagaimana menyikapi Qadha dan Qadhar ?
6.   Hikmah Beriman kepada Qadha dan Qadhar ?

                                                                                              
1.3  Tujuan Penulis
1.    memahami pengertian beriman kepada Qadha dan Qadhar.
2      Memahami pengertian Qadha dan Qadhar Allah Swt.
3.  memahami ciri – ciri beriman kepada Qadha dan Qadhar
4.    Memahami Hubungan antara Qadha dan Qadhar
5.  mengetahui bagaimana menyikapi Qadha dan Qadhar
6.  mengetahui Hikmah Beriman kepada Qadha dan Qadhar Allah Swt.

     








BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Beriman kepada Qadha dan Qadhar Allah Swt.
            Beriman kepada Qadha dan Qadhar merupakan Rukun iman yang ke  6.
Arti Beriman kepada qada dan qadar adalah menyakini dengan sepenuh hati adanya ketentuan Allah SWT yang berlaku bagi semua mahluk hidup. Allah swt menciptakan Makhluk dengan ukuran , bentuk, dan hukum tertentu. Misalnya Langit, bumi , hewan tumbuhan, malaikat, jin, dan manusia.
            Semua itu menjadi bukti kebesaran dan kekuasan Allah SWT. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini telah ditetapkan oleh Allah SWT.


2.2   Pengertian Qadha dan Qadhar Allah Swt.                                                                       2.2.1   QADHA’
                    Menurut bahasa qadha memiliki beberapa arti yaitu memutuskan, ketetapan, perintah, kehendak, pemberitahuan, dan penciptaan. Sedangkan menurut istilah, qadha adalah ketentuan atau ketetapan Allah SWT dari sejak zaman azali tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan makhluk-Nya sesuai dengan iradah (kehendak-Nya), meliputi baik dan buruk, hidup dan mati, dan seterusnya. 
Segala sesuatu yang terjadi telah diketahui Allah SWT terlebih dahulu karena Dialah yang merencanakan serta yang menentukannya. Seluruh makhluk, baik malaikat, syetan, jin, maupun manusia tidak akan mengetahui rencana-rencana Allah SWT tersebut.
Manusia punya rencana, tetapi Allah SWT yang menentukan. Ungkapan ini merupakan salah satu bentuk cara memahami qadha dan qadar Allah SWT. Manusia memang diberi kemampuan untuk berbuat dan berpikir, namun kedudukan Allah SWT dan kekuasaan-Nya adalah di atas segala-galanya.
Ketentuan Allah SWT ini merupakan hak mutlak (absolut), tanpa campur tangan siapapun dan dari manapun. Oleh karena itu manusia harus mau menerima kenyataan. Kemampuan manusia terbatas pada ikhtiar untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan berhasil atau gagal, ini merupakan kekuasaan Allah SWT semata.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ نُطْفَةٌ أَيْ رَبِّ عَلَقَةٌ أَيْ رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقًا قَالَ قَالَ الْمَلَكُ أَيْ رَبِّ ذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ فَمَا اْلأَجَلُ فَيُكْتَبُ كَذَلِكَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ ( رواه البخاري و مسلم )
Artinya : “Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: baginda s.a.w bersabda: Allah SWT mengutus Malaikat ke dalam rahim. Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Ia masih berupa air mani. Setelah beberapa waktu Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal darah. Begitu juga setelah berlalu empat puluh hari Malaikat berkata lagi: Wahai Tuhan! Ia sudah berupa segumpal daging. Apabila Allah SwT membuat keputusan untuk menciptakannya menjadi manusia, maka Malaikat berkata: Wahai Tuhan! Orang ini akan diciptakan lelaki atau perempuan? Celaka atau bahagia?  Bagaimana rezekinya?  Serta bagaimana pula ajalnya?  Segala-galanya dicatat ketika masih di dalam kandungan ibunya”. (HR Bukhari dan Muslim)
   2.2.2   QADHAR
Dari segi bahasa Qadhar berasal dari kata “Qadaro” yang artinya memutuskan suatu perkara. Adapun istilah Qadar adalah ketentuan atau keputusan Allah SWT yang telah berlaku bagi setiap makhluk berdasarkan ketetapan dan usaha, serta doa yang dilakukan orang tersebut. Qadhar bisa disebut dengan TAKDIR. Oleh karena itulah, baik buruknya telah direncanakan terlebih dahulu oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT :
وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَارٍ (الرعد : ٨)
Artinya : “Dan segala sesuatu  pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS Ar Ro’du: 8)
Dari pengertian hadis dan ayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa qadha dan qadar atas diri  manusia telah diputuskan oleh Allah SWT sebelum manusia ada atau dilahirkan ke dunia ini. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah qadha dan qadar biasa disebut juga dengan takdir. Jadi, beriman kepada qadha dan qadar dapat dikatakan pula dengan beriman kepada takdir.
Takdir baru dapat diketahui oleh manusia dengan kenyataan atau peristiwa yang yang telah terjadi, contoh :
1.       Terjadinya musibah bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember tahun 2004 yang merenggut ratusan ribu korban meninggal dunia. Sebelum kejadian tersebut tak ada seorangpun yang mengetahuinya.
2.       Dalam suatu kejadian kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang ternyata ada seorang bayi yang selamat. Menurut ukuran akal,  si bayi adalah makhluk yang sangat lemah dan tidak mampu mencari perlindungan, tetapi malah dia yang selamat. Sementara penumpang lain yang sudah dewasa dan dapat berusaha menyelamatkan diri malah meninggal dunia.
3.       Ada seorang yang dilahirkan dari keluarga yang sangat miskin.  Orang sekampung memperkirakan anak tersebut kelak juga akan menjadi miskin seperti orang tuanya. Namun, setelah anak tersebut dewasa ternyata menjadi orang yang pandai berdagang, sehingga dia menjadi orang yang kaya.
Contoh-contoh di atas hanyalah merupakan bagian kecil ari peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan takdir Allah SWT. Masih banyak sekali peristiwa yang bisa kita pahami sebagai perwujudan dari qadha dan qadar dari Allah SWT. Namun dari berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa qadha dan qadar Allah SWT akan tetap berlaku kepada setiap makhluk-Nya. Oleh karena itu, orang beriman harus meyakini dengan sepenuh hati akan adanya qadha dan qadar.
Firman Allah SWT :
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (سورة يس : ٣٨)
Artinya : “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (takdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS. Yasin : 38)
Dalam surat al-Hadid ayat 22, Allah juga berfirman :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاًَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ (سورة الحديد : ۲۲)
Artinya : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. al-Hadid : 22)

·         Contoh dan Macam-macam Takdir

Meskipun segala sesuatu yang terjadi di jagat raya ini sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali, tetapi pemberlakuan takdir Allah tersebut ada juga yang mengikutsertakan peran makhluk-Nya. Karena itulah, takdir dibagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq :
1.        Takdir Mubram
Dalam bahasa Arab, mubram artinya sesuatu yang sudah pasti, tidak dapat dielakkan. Jadi, takdir mubram merupakan ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku atas setiap diri manusia, tanpa bisa dielakkan atau di tawar-tawar lagi, dan tanpa ada campur tangan atau rekayasa dari manusia.
Contoh takdir mubram antara lain :
a Waktu ajal seseorang tiba
a Usia seseorang
a Jenis kelamin seseorang
a Warna darah yang merah
a Bumi mengelilingi matahari
a Bulan mengelilingi bumi
Jika Allah sudah menetapkan bahwa seseorang akan mati pada suatu hari, di suatu tempat, pada jam sekian, maka orang tersebut pasti akan mati pada saat dan tempat yang sudah ditentukan itu. Ia tidak akan bisa lari atau bersembunyi dari malaikat Izrail, meskipun ia berada di dalam sebuah tembok benteng yang sangat kokoh.
Allah SWT. berfirman :
أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ (سورة النساء : ٧٨)
Artinya : “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (QS. an-Nisa : 78)
2.        Takdir Mu’allaq
Dalam Bahasa Arab, mu’allaq artinya sesuatu yang digantungkan. Jadi, takdir muallaq berarti ketentuan Allah SWT yang mengikutsertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Dan hasilnya aakhirnya tentu saja menurut kehendak dan ijin dari Allah SWT.
Allah SWT. berfirman :
...إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ... (سورة الرعد : ۱۱)

Artinya : “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. ar-Ra’d : 11)

Beberapa contoh takdir mu’allaq antara lain adalah kekayaan, kepandaian, dan kesehatan. Untuk menjadi pandai, kaya, atau sehat, seseorang tidak boleh hanya duduk berpangku tangan menunggu datangnya takdir tapi ia harus mengambil peran dan berusaha. Untuk menjadi pandai kita harus belajar; untuk menjadi kaya kita harus bekerja keras dan hidup hemat; dan untuk menjadi sehat kita harus menjaga kebersihan. Tidak mungkin kita menjadi pandai kalau kita malas belajar atau suka membolos. Demikian juga kalau kita ingin kaya, tetapi malas bekerja dan suka hidup boros; atau kita ingin sehat, tetapi kita tidak menjaga kebersihan lingkungan, maka apa yang kita inginkan itu tak mungkin terwujud.
Sebagaimana ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar di atas, orang yang meyakini takdir Allah SWT, tidak boleh pasrah begitu saja kepada nasib karena Allah SWT memberikan akal yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Allah SWT juga memberikan tubuh dalam bentuk sebaik-baiknya untuk digunakan sarana berusaha.
Dengan demikian, jelaslah bahwa beriman kepada qadha dan qadar Allah bukan berarti kita hanya pasrah dan duduk berpangku tangan menunggu takdir dari Allah; melainkan juga berusaha yang giat sepenuh hati mengubah nasib sendiri, berupaya bekerja dengan keras mencapai apa yang kita cita-citakan.



2.3   Ciri – Ciri beriman kepada Qadha dan Qadhar Allah Swt.                                                                        Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang dihadapkan kepada kenyataan hidup yang dialaminya. Kenyataan itu kadang ada yang berbentuk positif dan terkadang negatif, seperti :
  • ada yang memuaskan ada yang tidak,
  • ada yang menyenangkan ada yang menyusahkan,
  • ada yang menurut kita baik ada yang buruk, dan sebagainya.

Bagi orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apapun kenyataan dan peristiwa yang dialaminya, akan ditanggapi dan diterima secara positif. Sebaliknya, bagi orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, kenyataan apapun yang diterima ditanggapi dan diterima secara negatif.
Contoh :
  • Orang beriman yang tertimpa musibah menanggapi kenyataan ini dengan kesabaran dan ketabahan. Kesabaran dan ketabahan merupakan sika positif yang dinilai Allah SWt dengan pahala. Jadi, selama dia sabar dan tabah, selama itu pula pahalanya terus mengalir.
  • Orang beriman ketika mendapatkan keberuntungan besar bersyukur dan merasa bahwa semua itu karunia dari Allah SWT. Untuk itu ia ingin berbagi kepada orang lain dengan menafkahkan sebagian keuntungannya tersebut.
  • Orang yang tidak beriman ketika mendapat musibah merasa bahwa dirinya tidak berguna lagi. Dia merasa putus asa dan akhirnya melampiaskannya dengan berbagai macam perbuatan yang merusak, seperti melamun, merokok, mengkonsumsi narkoba, bahkan ada yang bunuh diri.
  • Orang yang tidak beriman ketika mendapat keuntungan bisnis yang berlimpah malah menggunakannya untuk berfoya-foya. Dia merasa bahwa yang didapatnya itu semata-mata merupakan prestasi yang harus diraakan dan dia berhak dan bebas menggunakan sesuka hatinya.
Dengan memahami contoh-contoh tersebut, yakinkah kamu bahwa beriman kepada qadha dan qadar mempunyai peranan penting dalam kehidupan? Kalau yakin, tentu kamu ingin meningkatkan keimananmu kepada qadha dan qadar. Bagaimana ciri-ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar? Berikut ini merupakan ciri orang yang beriman kepada qadha dan qadar.
1.         Selalu menyadari dan menerima kenyataan
Iman kepada qadha dan qadar dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menerima kenyataan hidup. Karena yang terjadi adalah sudah pada garis ketentuan Allah pada hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah SWT.
Firman Allah SWT :
قُلْ مَنْ ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُمْ مِنَ اللهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلاَ يَجِدُوْنَ لَهُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَلِيًّا وَلاَ نَصِْيرًا (سورة الاحزاب : ۱٧)
Artinya : “Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab : 17)
2.         Senantiasa bersikap sabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh kesabaran, baik dalam situasi yang sempit atau susah dan tetap bersabar dalam situasi senang atau bahagia. Dengan demikian orang yang beriman kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam keadaan yang stabil jiwanya.
اَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْآأَنْ يَقُوْلُوْآ امَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ (سورة العنكبوت : ۲)
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2)
Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya. Perhatikan firman Allah berikut :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ (سورة البقرة : ۱٥٥)
Artinya : “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah : 155)
Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya memberi berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Memang dalam menghadapi cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai sukses.
3.         Rajin dalam berusaha dan tidak mudah menyerah
Agar seseorang terus giat berusaha ia pun yakin bahwa segala hasil usaha manusia selalu diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan.
Firman Allah :
وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعى. وَأَنَّ سَعْيَه سَوْفَ يُرَى. ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَآءَ اْلأَوْفَى. وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهى (سورة النجم :٣٩-٤۲)
Artinya : “Dan bahwasannya seorang manusia tiada  memperoleh selain apa  yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42)
4.         Selalu bersikap optimis, tidak pesimis
Keyakinan terhadap Qadha dan Qadar dapat menumbuhkan sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena ia yakin walau sering gagal, pasti suatu saat akan berhasil sehingga tidak akan berputus asa.
Firman Allah SWT :
... وَلاَ تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ لاَ يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ (سورة يوسف :٨٧)
Artinya : “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87)
5.         Senantiasa menerapkan sikap tawakal
Tawakal (berserah diri0 kepada Allah SWT akan tumbuh pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala sesuatu telah dikehendaki Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut keyakinannya Allah tidak mungkin menyengsarakannya. Allah sumber kebaikan sehingga tidak mungkin Allah menghendaki hamba-Nya kepada keburukan.

Firman Allah SWT :
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلاَّ هُوَ اخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (سورة هود : ٥٦)
Artinya : “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud : 56).

2.4   Hubungan antara Qadha dan Qadhar
                Qadha dan Qadhar memiliki hubungan yang saling melengkapi. Qadha lebih menggambarkan aspek perencanaan dan penentuan atas penciptaan terhadap segala sesutau. Sedangkan Qadhar yaitu batasan atau ukuran serta hukum hukum yang harus ada pada setiap ciptaan yang direncanakan itu.
                Allah Swt. Telah menetapkan Qadha dan Qadhar pada semua makhluk atas segala apa yang terjadi pada dirinya, akan tetapi manusia tidak boleh menggantungkan diri sepenuhnya kepada takdir semata – mata, tetapi harus berusaha untuk menentukan nasibnya sendiri. Apabila ingin memperoleh prestasi yang tinggi tidak akan diperoleh dengan hanya diam, duduk, dan berdoa serta menggantungkan diri kepada Allah Swt. Akan tetapi harus dibarengi dengan berusaha dan sungguh sungguh. Hanya yang perlu dimengerti, bahwa tidak semua usaha atau ikhtiar pasti berhasil karena hanya Allah Swt. Yang menentukan segalanya
                Berdasarkan keterangan diatas jelas bahwa hubungan antara Qadha dan Qadhar berkaitan erat . Qadha  mengacu pada hukum, undang – undang , dan ketetapan Allah swt. Yang berlaku atas semua makhluknya. Sedangka Qadar mengacu kepada pelaksanaan dari rencana Allah swt. Atas hukum, undang undang dan ketetapan Allah Swt.

2.5  Menyikapi Qadha dan Qadhar Allah Swt

                   Keimanan kita pada Qadha dan Qadhar melahitrkan ajaran tentang konsep ridha. Menerima segala yang diputuskan allah, sabar dalam menyikapinnya , kemudian bertawakal mmbangun langkah – langkah usaha.
Allah Swt berfirman dalam Al Quran Surah Al – Insyirah ayat 5 & 6 :
﴿ فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ ﴾ [ الانشراح: 5]
“karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 5).
firman Allah ta’ala pada ayat berikutnya:
 ﴿ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦ ﴾ [ الانشراح: 6]
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS Alam Nasyrah: 6).
Itu adalah Sunatullah. Tidak ada kesulitan abadi dan tidak ada kemudahan yang abadi.
Tidak ada manusia yang sengsara selamanya ataupun bahagia selamannya. Semua itu
tergantung sikap kita sendiri dalam menghadapi semua hidup ini. Ketika kita mengahadapi
kesedihan, masalah, kegelisahan, mantapkan  dan tingkatkan iman kita kepada Qadha dan
Qadhar Allah Swt.

2.6  Hikmah beriman kepada Qadha dan Qadhar Allah Swt.

 1. Menyadari dan menerima kenyataan  

 Iman kepada qadha dan qadar dapat menumbuhkan kesadaran yang tinggi untuk menerima kenyataan hidup.  Karena yang terjadi adalah sudah pada garis ketentuan Allah pada hakekatnya bencana atau rahmat itu semata-mata dari Allah SWT.

Firman Allah SWT  yang Artinya :  “Katakanlah: “Siapakah yang dapat  melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Allah menghendaki bencana atasmu, atau menghendaki rahmat untuk dirimu dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS. al-Ahzab : 17) 


2. Membentuk dan meningkatkan kesabaran 

Orang yang beriman kepada qadha dan qadar akan senantiasa menerima segala sesuatu dengan penuh kesabaran, baik dalam situasi yang sempit atau susah dan tetap bersabar dalam situasi senang atau bahagia. Dengan demikian orang yang beriman kepada takdir Allah SWT senantiasa dalam keadaan yang stabil jiwanya.  
Artinya : “Apakah manusia itu mengira mereka akan dibiarkan, sedang mereka tidak diuji lagi ?”. (QS. al-Ankabut : 2) Wujud ujian dan cobaan bisa berupa tiadanya biaya pendidikan, fisik yang lemah, penyakit, orang tua meninggal, dilanda bencana alam, dan sebagainya. 

Perhatikan firman Allah yang artinya:  “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah : 155) 

Renungkan ayat 155 surat al-Baqarah, yaitu supaya memberi berita gembira  kepada orang-orang yang sabar. Memang dalam menghadapi cobaan diperlukan sikap sabar. Tanpa sikap sabar akan sulit manusia mencapai sukses. 

3. Sebagai pendorong dalam berusaha 

Agar seseorang terus giat berusaha  ia pun yakin bahwa segala hasil usaha manusia selalu diwaspadai, dinilai, serta diberi balasan.

Firman Allah : Artinya :  “Dan bahwasannya seorang manusia tiada  memperoleh selain apa  yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan di perlihatkan (kepadanya). Kemudian  akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)”. (QS an-Najm : 39-42) 

4. Menumbuhkan Sikap Optimis 

Keyakinan terhadap Qadha dan  Qadar dapat menumbuhkan sikap yang optimis tidak mudah putus asa. Karena ia yakin walau sering gagal, pasti suatu saat akan berhasil sehingga tidak akan berputus asa.

Firman Allah SWT : Artinya :  “…dan jangan kamu berputus asa  dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat  Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf : 87) 

5. Menumbuhkan jiwa tawakal 

 Jiwa tawakal pasrah kepada Allah SWT akan tumbuh pada diri seseorang jika ia meyakini bahwa segala sesuatu telah dikehendaki Allah. Allah Maha bijaksana sehingga menurut keyakinannya Allah tidak mungkin menyengsarakannya. Allah sumber kebaikan sehingga tidak mungkin Allah 
 menghendaki hamba-Nya kepada keburukan.  


                                                              KESIMPULAN 


 Firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu. Tidak ada satu binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud : 56).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar